Saturday, June 12, 2010

Budidaya Bawang Merah


I. PERKECAMBAHAN

Budidaya bawang merah dengan biji memerlukan penanganan yang sangat serius dan teliti terutama pada saat perkecambahan sampai pindah tanam. Perlakuan per-kecambahan yang harus diperhatikan adalah, pertama benih dimasukkan ke dalam kantong plastik atau wadah yang berisi air hangat + 25 - 300C, dan dibiarkan selama 30 menit, kemudian ditiriskan dan dikering-anginkan sehingga antara benih satu dengan lainnya tidak lengket tetapi tidak smpai terlalu kering .


II. PERSEMAIAN

Sebelum persemaian dilaksanakan, terlebih dahulu kita harus menyiapkan media semai yang berupa campuran pupuk kandang yang sudah matang dan pasir (lebih baik media semai sudah disterilisasi) dengan perbandingan 5 : 1 Untuk memperoleh persemaian yang bagus, tiap 1 m3 media ditambah 1 kg ZA, 1 Kg SP-36 dan 0,5 Kg KCl. Media tersebut kita bentuk menjadi bedengan dengan ukuran disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah benih yang disemai, selanjutnya pada bedengan dibuat larikan dengan jarak antar larikan 15 Cm. Untuk menghindari panas dan hujan, pada bedengan persemaian harus dipasang sungkup (atap) dan sebaiknya dibuat agak tinggi. Benih yang sudah tumbuh disiram secara rutin untuk menjaga kelembabannya. Bibit bawang merah disemprot dengan pestisida apabila ada gejala serangan hama atau penyakit. Pada umur 45-50 hari atau daunnya sudah sebesar pipa sedotan air minum dan pangkal batangnya sudah membentuk bakal umbi bibit bawang merah sudah siap dipindah tanam, yaitu dengan cara mencabut bibit tersebut, yang sebelumnya bedengan semai harus dibasahi agar akar tidak rusak. Bibit tersebut selanjutnya dipotong daunnya bagian atas sekitar 1/3-nya untuk mengurangi penguapan. Sebelum tanam, bibit bawang merah sebaiknya dicelupkan pada larutan bakterisida dan fungisida pada bagian akarnya.

III. PINDAH TANAM

Persiapan yang dilakukan sebelum tanam adalah:

1. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah dilakukan untuk menciptakan kondisi struktur tanah dan aerasi yang lebih baik.

2. Pembuatan bedeng tanam
Ukuran bedeng tanam disesuaikan dengan kondisi tekstur dan struktur tanah setempat, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

a. Tanah dengan tekstur liat/ tanah berat
Pengolahan dengan sistem surjan dengan got/selokan dalam (lebar 40 Cm, dalam 50 Cm).

b. Tanah dengan tekstur pasir/ tanah ringan
Tanah ringan sulit menyimpan air oleh karena itu bedengan diupayakan tidak terlalu tinggi, yaitu kurang dari 50 Cm.

c. Tanah organik/gambut
Tidak dilakukan pengolahan tanah secara intensifatau sering disebut dengan sistem TOT (Tanpa Olah Tanah) dan bedengan tidak terlalu tinggi.

3. Penanaman
Sebelum ditanami sebaiknya bedeng tanam disiram terlebih dahulu untuk menciptakan kondisi tanah yang lebih basah. Khusus untuk tanah berat terutama pada musim kering walaupun sudah disiram tetapi masih tetap keras perlu ditugal untuk membuat lubang tanamnya. Jarak tanam yang disarankan adalah 10 x 12 Cm per lubang 1 bibit untuk musim penghujan dan untuk musim kemarau 10 x 10 Cm per lubang 1 bibit.

IV. PEMELIHARAAN

Meliputi kegiatan :

1. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan sprayer yang diisi air, dan dilakukan tiap pagi hari terutama sehabis hujan untuk menghindari penyebaran penyakit Alternaria porii (trotol).

2. Menyiang dan membumbun
Menyiang dilakukan sesuai dengan kondisi gulma, sehingga tanamannya tidak terganggu. Kegiatan membumbun dilakukan saat tanaman umur 30 dan 45 hst atau disesuaikan dengan kondisi umbi sampai menyembul ke permukaan tanah.

3. Pengairan
Dilakukan disesuaikan dengan kondisi tanah yang penting tanah harus tetap basah. Karena pengairan yang kurang akan mempengaruhi kesuburan tanaman dan ukuran umbi.

4. Pengendalian Hama dan Penyakit
a. Bercak Ungu (Alternaria porii (ELL) Cif.

Akibat serangan :
- Daun bawang kering dan mati
- Umbi yang berbentuk tidak sempurna ( kecil - kecil )

Gejala serangan:
- Bercak kecil, cekung
- Warna putih hingga kelabu
-Jika membesar bercak seperti membentuk cincin
Pengendalian teknis :
- Penyemprotan dengan air bersihpada tanaman sehabis turun hujan
Pengendalian kimia:
- Aplikasi fungisida berbahan aktif tembaga hidroksida dan Iprodion.

b. Bercak daun Cercospora (Cercospora duddiae)
Akibat serangan :
-Terjadi klorosis pada daun

Gejala serangan:
-Bercak klorosis, bulat, berwarna kuning
- Terdapat pada ujung daun

Pengendalian kimia:
-Aplikasi fungisida berbahan aktif tembaga hidroksida dan Iprodion

c. Busuk Daun (Peronospora destructor)
Akibat serangan:
- Daun kering dan mati

Gejala serangan:
- Saat tanaman mulai membentuk umbi pada cuaca yang cukup lembab maka gejala serangan akan berupa bercak hijau pucat dan selanjutnya berubah menjadi kapang.

Pengendalian teknis :
- Penyemprotan dengan air bersih sehabis hujan atau pada pagi hari sebelum matahari terbit

Pengendalian kimia:
- Aplikasi fungisida berbahan aktif metalaksil dan tebu konazol

d. Rebah bibit (Phytium debaryanum Hesse.)
Akibat serangan :
- Tanaman yang baru tumbuh akan busuk dan mati

Gejala serangan:
- Bibit di persemaian busuk, rebah dan selanjutnya akan mati

Pengendalian teknis:
-Menjaga kelembaban disekitar persemaian agar tidak terlalu tinggi

Pengendalian kimia:
-Aplikasi bakterisida.

d. Ulat
Akibat serangan:
- Daun tanaman menjadi putus-putus atau robek dan rusak

Gejala serangan:
-Terdapat telur ulat di sekitar tanaman.
- Daun bila diteropong tampak bekas dimakan ulat

Pengendalian teknis:
- Memotong daun yang terserang dan dibuang di lokasi yang berjauhan.
Pengendalian kimia:
- Aplikasi insektisida yang berbahan aktif Klorpirifos, Tebufenosida.

5. Pemupukan

Kebutuhan pupuk per hektarnya adalah sebagai berikut N = 200 Kg (ZA = 952 Kg/Ha), P2O5 = 230 Kg (SP36 = 500 Kg/Ha), K2O = 230 Kg (KCl = 383 Kg/Ha). Pemupukan diberikan pada awal tanam sekitar setengah bagian dari total dan sisanya masing-masing 1/4 diberikan waktu umur 30 hst dan 55 hst.

V. PANEN

Panen dilaksanakan saat tanaman umur 65-75 hst, ditandai dengan daun tanaman sudah mulai rebah dan umbi tersembul ke permukaan tanah. Cara memanen adalah dengan mencabut tanaman dan menjemurnya diteruk matahari langsung atau diletakkan di para-para.

VI. PASCA PANEN

Umbi dapat bertahan + 1-2 bulan apabila cara penanganan pasca panennya baik. Cara penyimpanan disesuaikan dengan kondisi setempat. Salah satu cara penyimpanannya adalah disimpan diatas para-para

No comments:

Post a Comment

Post a Comment